Sabtu, 10 Juli 2010

CITRA MASYARAKAT KANDANGAN







Sadar atau tidak sadar entah mengapa orang-orang diluar sana selama ini telah se’enaknya men’cap” refutasi buruk terhadap masyarakat kandangan.

Katanya” Orang kandangan itu pangalahian lah, penyudukkan lah, panamparan lah, wadah urang mancari kajian lah, untalan lah, ..bla…bla…bla..dan lain-lain”

Sebagian besar Opini dan Gosip yang di sodorkan itu adalah “SALAH”

Sekarang coba kita lihat apa bedanya orang kandangan dengan orang amuntai,barabai,rantau,banjar semuanya lah….

Pertanyaannya adalah…

Apakah orang kandangan saja yang sering bakalahi.. . ?

Sebagai warga kandangan, saya tahu betul seperti apa sifat, tabiat dan etika yang berlaku. Saya akui memang hal-hal seperti itu kadang masih berlaku dalam ruang lingkup kecil masyarakat. dan saya yakin itupun kadang terjadi juga dalam masyarakat lainnya.


Yang sangat-sangat mengherankan entah mengapa selama ini banyak orang-orang memandang kita sebagai warga yang penuh kekerasan.


Teringat cerita teman saya beberapa tahun lalu yang baru memasuki salah satu perguruan tinggi di banjarmasin.
“ saat ia mencoba berinteraksi dengan orang-orang yang baru ia kenal yang tidak lain hanyalah ingin membentuk persahabatan,
dan coba tebak apa selanjutnya yang terjadi…. ?
Wahhh…..tidak tau kenapa sebagian besar orang-orang di kampus menjauhi ia dengan alasan sepele.. “katanya orang kandangan.itu nakal-nakal.”
Hahahaha….:) Saya terbahak-bahak setelah mendengar cerita itu

Sangat Lucu Bukan… ?
Belum melakukan kesalahan saja sudah memikul reputasi buruk..

Lalu bagaimana kita menyikapi hal seperti ini… ?
Hmmm… anda pasti mempunyai jawaban tersendiri..


Kebanyakan orang cenderung melihat kesalahan dan keburukan orang lain dibanding kebaikannya yang dibuatnya. Seperti kalimat lama mengatakan: 1 kesalahan menguras 1000 kebaikan dalam sekejab.

Coba lihat sekeliling kita Bukankah itu yang terjadi?
Orang cenderung melihat dan membicarakan segelintir kesalahan dibandingkan jutaan kebaikan.

Mungkin inilah faktor yang menyebabkan rendahnya citra masyarakat kita selama ini. Tapi disisi lain kita patut bangga menjadi masyarakat yang berpengaruh dan di takuti oleh masyarakat lain. Dengan begitu tidak ada yang berani menganggap remeh warga hss.



Setahu saya Masyarakat Kandangan yang sesungguhnya adalah Masyarakat yang Agamis, Bersahabat , Cinta Damai Aman dan Sejahtera.

Jauh dari Maksiat, jauh dari pergaulan bebas, dan jauh dari segala tindak kriminalitas seperti kota-kota lain.

“ Kami Bangga Menjadi Masyarakat Kandangan “
“ Kami Cinta dengan Bumi Antaludin “
“ Kami Bahagia Menjadi Generasi Muda Hulu Sungai Selatan “

==========Kandangan Cing Ai=================



1 komentar:

  1. Saya dukung pelestarian khazanah cerita rakyat kandangan, hulu sungai selatan, kalimantan selatan seperti Maharaja sukarama dan raja-raja dari kerajaan negara daha, perebutan tahta pangeran samudera dengan pangeran tumenggung, legenda raja gubang, datu panglima amandit, datung suhit dan datuk makandang, datu singa mas, datu kurba, datu ramanggala di ida manggala, datu rampai dan datu parang di baru sungai raya, datu ulin dan asal mula kampung ulin, datu sangka di papagaran, datu saharaf parincahan, datu putih dan datu karamuji di banyu barau, legenda batu laki dan batu bini di padang batung, legenda gunung batu bangkai loksado, datu ning suriang pati di gambah dalam, legenda datu ayuh sindayuhan dan datu intingan bambang basiwara di loksado, kisah datu ning bulang di hantarukung, datu durabu di kalumpang, datu baritu taun dan datu patinggi di telaga langsat, legenda batu manggu masak mandin tangkaramin di malinau, kisah telaga bidadari datu awang sukma di hamalau, kisah gunung kasiangan di simpur, kisah datu kandangan dan datu kartamina, datu hamawang dan datu balimbur serta sejarah mesjid quba, tumenggung antaludin dan tumenggung mat lima mempertahankan benteng gunung madang, panglima bukhari dan santar dalam perang amuk hantarukung di simpur, datu naga ningkurungan luk sinaga di luk loa, datu singa karsa dan datu ali ahmad di pandai, datu buasan dan datu singa jaya di hampa raya, datu haji muhammad rais di bamban, datu janggar di malutu, datu bagut di hariang, datu abbas dan sejarah mesjid ba angkat di wasah, dakwah penyebaran agama islam datu taniran di angkinang, datu balimau di kalumpang, datu daha, datu kubah dingin, makam habib husin di tengah pasar kandangan, kubur habib ibrahim nagara dan kubah habib abu bakar lumpangi, kubur enam orang pahlawan di ta’al, makam keramat bagandi, kuburan tumpang talu di parincahan, pertempuran garis demarkasi dan kubur Brigjen H.M. Yusi di karang jawa, pahlawan wanita aluh idut di tinggiran, panglima dambung di padang batung, gerombolan Ibnu hajar, sampai cerita tentang perang kemerdekaan Divisi IV ALRI oleh pejuang-pejuang kandangan yang banyak tersebar di banua amandit yang dipimpin Brigjend H. Hasan Basery di telaga langsat, karang jawa, jambu, ambutun, ambarai, mandapai, padang batung, ni’ih, simpang lima, sungai paring, mawangi, tabihi, durian rabung, munggu raya dan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan Kalimantan 17 Mei di Kandangan. Semuanya adalah salah satu aset budaya dan sejarah bagi Kalimantan Selatan.

    BalasHapus